Pemilik Kenanga Songket, Suaidah, selalu mengutamakan faktor kualitas dalam memproduksi kain songket. Suaidah,pemilik Kenanga Songket,menggeluti usaha songket karena satu alasan.Dia ingin bisnis songket yang telah ditekuni kedua orang tuanya tetap lestari sampai kapan pun. BERMULA dari usaha orang tua itulah Suaidah yang akrab disapa Cek Ada, menggeluti kerajinan kain songket. Menurut Dolpin Kedua orang tua Cek Ada, Ahmad Zaenuri dan Hj Zubaedah, semasa hidupnya adalah perajin songket ternama di Palembang, Sumatera Selatan. Selepas kepergian kedua orang tuanya menghadap Sang Khalik, Cek Ada mengambil alih usaha tersebut pada 1997.
Cek Ada mengakui keputusannya mengambil alih bisnis orang tua karena ingin usaha tersebut dapat terus berkembang. ”Kalau bisa sampai kapan pun,”ungkapnya. Mengambil alih usaha songket bukan perkara mudah. Selain harus mengetahui seluk-beluk cara pembuatan kain songket,Cek Ada juga harus memikirkan selera pasar yang terus berkembang. Beruntung Cek Ada memiliki orang tua seperti Zainuri dan Zubaedah. Pelajaran dari kedua orang tuanya yang telah memperkenalkan kain songket kepada Cek Ada sejak kanak-kanak menjadi bekal berharga saat dia memutuskan mengambil alih usaha tersebut. ”Sejak duduk di bangku sekolah dasar saya sudah diperkenalkan dengan kain songket,” tuturnya.
Bicara kain songket, tentu tak afdol kalau tidak menyampaikan informasi di balik perkembangan kain yang menjadi salah satu ciri khas Palembang ini. Cek Ada menuturkan, kain songket merupakan tenunan benang sutera atau kapas yang ditenun bersama-sama benang emas atau perak. Pada zaman dulu songket melambangkan kebesaran raja-raja dan pembesar-pembesar istana saja yang memakainya. Seiring perkembangan zaman, songket mulai digunakan untuk pakaian pengantin, perhiasan dinding, alas meja, barang-barang cenderamata dan sebagainya. Songket bangsa Melayu menjadi cikal-bakal perkembangan kain songket.Kata songket sendiri berasal dari ’sungkit’,yaitu teknik menyungkit.
Bunga atau hiasan di kepala kain di tenun mengikuti citarasa penenun. Corak atau ragam hias tersebut dikenali dengan nama-nama seperti tapak manggis,pucuk rebung,lawi ayam,dan sebagainya. Menurut Cek Ada, sebagai perajin industri kecil,kemahiran seorang penenun mengambil peran penting atas hasil kain yang diproduksi. Kreativitas menjadi harga yang paling mahal dalam proses menenun. Dibutuhkan waktu sekitar empat hingga enam pekan untuk menghasilkan sehelai kain songket yang panjangnya 20–40 meter. ”Itulah kenapa tiap bulannya tidak banyak kain songket yang kami produksi,”tutur ibu empat anak ini.
Lantaran produk yang dihasilkan tiap bulannya terbatas,melalui bendera Kenanga Songket Cek Ada lantas lebih memikirkan pada penyempurnaan produk dan kualitas produk.Desain-desain yang lebih memenuhi selera pasar menjadi andalan.”Ya, desain dan pengembangan produk menjadi salah satu andalan kami untuk tetap eksis di tengah persaingan,”tuturnya. Pengembangan produk yang dilakukan Kenanga Songket di antaranya menyediakan beraneka macam kain songket, pelangi, baju sutera,tajung,blongsong,jumputan, danlain-lain.Produk-produktersebut menjadi hasil karya dari enam orang perajin yang setia mendampingi perjalanan bisnis Cek Ada. Dari sekian produk yang berhasil dikembangkan, songket sutera tenun benang emas menjadi andalan Kenanga Songket.
Yang khas dari produk tersebut ialah beragam benang emas yang menghiasinya.Terdapat beberapa benang emas seperti satibi,kristal, dan jantung.Khusus untuk songket tenun yang menggunakan benang emas jantung, menurut Cek Ada, harganya paling mahal. Produk-produk berkualitas Cek Ada dijual dengan kisaran antara Rp1,5–7,5 juta. Mahal? Tentu saja relatif. Bagi sebagian kalangan yang mengetahui seluk-beluk pembuatan dan bahan-bahan yang digunakan, harga tinggi bukanlah masalah. ”Biasanya konsumen yang paham kain songket berkualitas tak pernah mempersoalkan harga,”ungkap Cek Ada. Perempuan berusia 50 tahun ini mengatakan, produk-produknya telah menyebar ke mana-mana.
Melalui promosi dari mulut ke mulut, produk Kenanga Songket merambah beberapa daerah di Indonesia. Kota Palembang tentu menjadi sasaran produk-produk karya seni bercitarasa tinggi ini. Sejalan dengan pemasaran yang semakin luas, omzet usahanya meningkat. Setidaknya omzet Rp20 juta per bulan telah mampu dibukukan dari usahanya. Perkembangan usaha Kenanga Songket juga tak lepas dari berbagai kegiatan pemasaran. Satu yang paling membawa efek positif dari segi pemasaran adalah saat Kenanga Songket diikutkan pada ajang Inacraft 2010 atas fasilitas Bank Rakyat Indonesia (Bank BRI). Kebetulan, usaha Cek Ada merupakan satu dari sekian usaha mikro kecil menengah (UMKM) binaan Bank BRI.
”Pada awal-awal pelaksanaan pameran, stan saya memang masih kurang mendapat respons. Baru menjelang akhir pelaksanaan, banyak respons positif,”kata Cek Ada. Bank BRI juga turut membantu permodalan pada saat memulai usaha. Pada permulaan itu Bank BRI mengucurkan kredit Rp6 juta. Setelah sekian lama berjalan,Bank BRI telah memberikan pinjaman modal Rp40juta. ”Untuk itu saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bank BRI,”ujarnya. Meski kini bisa dikatakan tengah menikmati manisnya perjuangan membesarkan usaha, bukan berarti ikhtiar Cek Ada tak menemui hambatan.Kendala terbesar yang dia hadapi adalah bahan baku benang. ”Benang susah didapat sekarang,” ungkapnya.
Untuk mengakalinya,Cek Ada terpaksa mengambil benang-benang dari kain songket yang telah pudar untuk dipasangkan pada kain yang baru diproduksi. Persoalan lain adalah ketidakjujuran dari para pembeli yang melakukan kerja sama. Beberapa waktu lalu Cek Ada mengaku tertipu sampai Rp11 juta oleh seorang pembeli di Palembang. ”Dia mengambil produk. Janjinya mau membayar setelah produk terjual. Eh,malah bablassampai sekarang.” Kepada orang-orang yang memanfaatkan kesempatan dalam situasi seperti itu, Cek Ada mengambil prinsip tak ingin memperpanjang masalah. Kata dia, rezeki sudah diatur dan tidak bakal tertukar dengan rezeki orang lain.”Biar sajalah,”urainya.
Menurut Informasi yang diterima Indonesia Type Approval bahwa Sebagai usaha turun menurun, satu obsesi Cek Ada adalah ingin Kenanga Songket dapat terus berkibar namanya sampai kapan pun. Dari keempat anaknya, Cek Ada menilai anak yang paling besar menunjukkan ketertarikan menjadi penerus. Untuk itu Cek Ada berharap,”Dari keempat anak saya, yang sulung kelihatannya menunjukkan minat meneruskan. Jika dia mau, saya akan sangat mendukungnya.
Senin, 05 Juli 2010
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar