Rasanya tidak banyak anak muda yang mau dekat-dekat dengan limbah yang bau dan kotor. Namun menurut Bajul bahwa para siswi SMA ini membuktikan bahwa mereka mampu mengolah limbah menjadi sesuatu yang berguna. PKenalkan Hermina Lisna Pasaribu, Nur Anida Khairunnisa, dan Wasni Situmorang. Di tempat tinggal mereka di kawasan Gunung Sindur, Bogor, masyarakatnya kebanyakan masih bekerja sebagai petani dan peternak. Artinya, banyak hewan ternak seperti kerbau yang berkeliaran dan kadang meninggalkan jejak kotorannya di jalan. Selain itu, tak jauh dari sekolah mereka di SMA 1 Gunung Sindur,tepatnya di daerah Plumpung, masyarakatnya masih hidup jorok.
Sampah makanan,kulit durian, sampai sampah plastik dibuang begitu saja di pinggir jalan. Benar-benar tidak sedap di pandang mata.Ini membuat Lisna, Anida,dan Wasni prihatin. “Saya lantas berpikir bagaimana caranya limbah-limbah ini bisa dimanfaatkan,”kata Lisna yang baru akan naik ke kelas XI. Lisna pun mengutak-atik literatur penelitian sains.Voila! Ternyata kotoran kerbau mengandung gas metan. Seperti diketahui, metan sangat mudah terbakar. Dari sini, Lisna pun berpikir untuk menjadikan kotoran kerbau sebagai briket, salah satu bahan bakar pengganti arang.
“Kotorannya nanti dicampur dengan sampah kulit durian dan daun pandan supaya wangi.Karena semua bahannya dari limbah, jadi gratis,”kata Lisna penuh semangat. Bagaimana cara mengolahnya? Jadi, kotoran kerbau akan difermentasi dulu. Caranya dengan menjemurnya di bawah sinar matahari selama 2–3 hari. Selama masa fermentasi ini kotoran akan mengering dan mengeluarkan zat metan. Kotoran tersebut lantas ditumbuk halus, diayak, lalu dicampur dengan kulit durian dan daun pandan, plus tepung tapioka, kemudian dimasak hingga padat.
Hasilnya, briket yang wangi! “Waktu mengumpulkan kotorannya yang lucu. Kita sampai ngorek-ngorek kotoran kerbau di kandangnya.Kita enggak mau ambil yang masih baru soalnya bau banget,”kata Lisna tergelak. Dari 200 gram kotoran kerbau, mereka bisa membuat 20 batang briket.Briket ini kemudian dibagibagi ke guru mereka untuk dipakai. Berhubung di tempat mereka tinggal masih belum banyak yang menggunakan kompor gas, jadi briket ini sangat berguna untuk m e m a s a k . Harganya jelas lebih murah dari arang.
Limbah perut ikan dan biogas dari rumput
Lain lagi di Kalimantan Selatan. Tepatnya, di daerah Kandangan. Di kota ini,tiga siswi dari SMA 2 Kandangan berhasil membuat minyak goreng non kolesterol dari limbah ikan tauman. Ikan tauman ini banyak ditemukan di daerah Kalimantan dan punya ukuran dan rasa mirip ikan gabus. “Di Kandangan belum ada supermarket, jadi saya kalau belanja ke pasar tradisional. Nah, di pasar isi perut ikan tauman dibuang begitu saja. Baunya enggak enak banget. Dari situ saya mulai berpikir, kira-kira limbah isi perut ini bisa diolah jadi apa,” cerita Aulia Gusrina.
Setelah diteliti dan dicoba dimakan sedikit,Aulia tahu bahwa isi perut ini mengandung banyak minyak, terasa pahit, dan mengandung empedu. Maka itu, tercetuslah ide untuk membuat minyak goreng non kolesterol dari limbah ini. Cara mengolahnya, tinggal menyaring minyak yang keluar dari isi perut,kemudian minyak dicampur dengan kunyit yang diiris tipis dan daun pandan yang dipotong-potong agar minyak berbau wangi.“Kalau masak ikan pakai minyak ini, ikannya jadi gurih banget.Kalau masak tempe atau tahu, rasanya jadi kaya rasa ikan,”kata Aulia tertawa.
Lain Aulia, lain lagi Queena, Kasha, dan Caecilia dari SMA Binus Serpong. Mereka sering melihat sampah rumput yang dipotong petugas dibuang begitu saja. Padahal setelah dicari literaturnya, sampah tersebut bisa diolah menjadi gas dan bisa menjadi biogas pengganti gas elpiji. “Kita sudah ada rencana untuk menyalurkan biogas ini ke kantin sekolah melalui pipa-pipa.Namun, kita masih menunggu persetujuan pihak sekolah karena ini menyangkut hubungan dengan manajemen gedung juga,”ujar Queen.
Perhatikan lingkungan sekitar
Karena penelitian mereka yang unik dan inspiratif, Queen,Aulia, Lisna, dan teman-temannya mendapatkan penghargaan sebagai pemenang L’oreal Science Camp 2010.Ini adalah kompetisi penelitian sains yang diikuti oleh SMA seluruh Indonesia. Soal ide mengolah limbah,ketiganya sepakat bahwa hal tersebut muncul karena kepekaan terhadap alam dan lingkungan sekitarnya.
”Teman-teman bilang saya itu lengket dengan alam. Mungkin karena saya tinggal di Kalimantan yang masih banyak hutannya,” kata Aulia yang punya cita-cita mengolah hutan Kalimantan sebagai tempat wisata. Ia juga siap menjadi polisi hutan untuk menjaga kelestariannya. Adapun Lisna sudah punya proyek berikutnya. “Di Gunung Sindur itu bising, banyak penggalian dan truk hilir mudik. Saya pernah membaca kalau menanam pohon bambu bisa mengurangi kebisingan. Jadi, saya ingin mengusulkan supaya sudut-sudut kota bisa ditanam pohon bambu,”tegas Lisna. Bagaimana dengan Queen? “Saya sih melihat saja di lingkungan sekolah.
Sekolah saya memang sudah sangat memadai fasilitasnya. Istilahnya semua ada dan bisa didapat. Menurut Bajul bahwa kita harus memikirkan bagaimana mengolah dan mencari energi alternatif, karena yang namanya kekayaan sumber daya alam pasti lama-lama akan habis. Jadi, kita harus bisa memanfaatkan apapun yang bisa dimanfaatkan,”cetus Queen. Dukungan sitemap untuk kawan saya:
Type Approval Indonesia
Nggo Kontes
Berita Kita
Dunia Berita
Hari™
Berita Terkini
Leak
Type Approval Partnership
Brita Utama
Reuni17
Xipoq
Indonesia Type Approval
Rabu, 07 Juli 2010
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar